Fikes.umsida.ac.id – Polusi udara menjadi persoalan kesehatan lingkungan yang semakin nyata di kawasan perkotaan.
Mahasiswa sebagai kelompok usia produktif kerap terpapar polusi udara akibat mobilitas harian yang tinggi, khususnya dari kendaraan bermotor.
Paparan ini menjadi perhatian serius karena salah satu polutan berbahaya yang dihasilkan adalah karbon monoksida (CO).
Baca Juga: Mengenal Tiga Bakteri Utama Penyebab ISK pada Lansia Menurut Penelitian TLM Umsida
Gas ini tidak berwarna dan tidak berbau yang dapat mengganggu sistem transportasi oksigen dalam tubuh.
Fenomena ini menjadi fokus riset Galuh Ratmana Hanum S Si M Si, dosen Program Studi D-IV Teknologi Laboratorium Medis, Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (FIKES Umsida).
bersama mahasiswanya Reza Verindah. Penelitian tersebut mengkaji h ubungan antara paparan polusi udara, gaya hidup mahasiswa, serta risiko terbentuknya karboksihemoglobin (COHb) dalam darah mahasiswa laki-laki.
Mobilitas Mahasiswa dan Paparan Karbon Monoksida

Peningkatan jumlah kendaraan bermotor berbanding lurus dengan tingginya emisi gas buang di udara ambien.
Mahasiswa umumnya menggunakan sepeda motor sebagai moda transportasi utama menuju kampus.
Jalur yang dilalui tidak hanya padat lalu lintas, tetapi juga melewati kawasan pasar dan industri yang berkontribusi terhadap tingginya polusi udara.
Cek Selengkapnya: Sumpah Profesi ke-XIV FIKES Umsida, 60 Lulusan Miliki Identitas Profesi dalam Diri Masing-Masing
Gas karbon monoksida yang terhirup melalui saluran pernapasan akan masuk ke aliran darah dan berikatan dengan hemoglobin.
Ikatan ini membentuk karboksihemoglobin yang memiliki afinitas jauh lebih kuat dibandingkan oksigen, sehingga berpotensi mengganggu suplai oksigen ke jaringan tubuh.
Kondisi inilah yang menjadikan paparan CO sebagai ancaman kesehatan yang sering kali tidak disadari.
Gaya Hidup Mahasiswa dan Risiko Kesehatan
Selain paparan dari lingkungan, gaya hidup mahasiswa turut memengaruhi risiko kesehatan akibat karbon monoksida.
Kebiasaan merokok, jarak tempuh perjalanan, serta durasi paparan polusi menjadi faktor yang kerap diasumsikan meningkatkan kadar COHb dalam darah.
Namun, hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh responden memiliki kadar COHb di bawah ambang batas yang ditetapkan Kementerian Kesehatan.
Temuan ini menunjukkan bahwa faktor protektif seperti penggunaan masker saat berkendara, waktu pengambilan sampel di pagi hari, serta mobilitas yang lebih rendah pada masa libur kuliah berperan dalam menekan risiko paparan karbon monoksida.
Edukasi Preventif Berbasis Riset Laboratorium
Riset yang dilakukan Galuh Ratmana Hanum dan Reza Verindah memberikan gambaran bahwa risiko kesehatan akibat polusi udara tidak selalu tercermin secara langsung dalam hasil laboratorium.
Cek Juga: Riset Ungkap Bahaya Penggunaan Minyak Goreng Berulang bagi Kesehatan
Meski kadar COHb masih normal, gejala seperti mudah lelah, pusing dan stres tetap dirasakan oleh sebagian mahasiswa.
Kondisi ini menegaskan pentingnya edukasi kesehatan berbasis pencegahan.
Kampus dan tenaga kesehatan memiliki peran strategis dalam membangun kesadaran mahasiswa terhadap bahaya polusi udara, pentingnya alat pelindung diri, serta gaya hidup sehat.
Pendekatan berbasis riset laboratorium menjadi fondasi penting untuk membentuk kebijakan dan edukasi kesehatan yang lebih kontekstual dan berkelanjutan bagi generasi muda.
Sumber: Riset Galuh Ratmana Hanum, SSi MSi
Penulis:Elfira Armilia























