Fikes.umsida.ac.id – Pekerja konstruksi identik dengan risiko cedera fisik akibat alat berat atau kecelakaan kerja.
Namun di balik paparan debu, semen dan lingkungan lembap, terdapat ancaman lain yang sering luput dari perhatian.
Infeksi jamur kuku atau Tinea unguium. Penyakit ini tampak sederhana, tetapi dapat berkembang kronis dan mengganggu produktivitas kerja jika tidak ditangani dengan tepat.
Hal ini terungkap dalam penelitian yang dilakukan Teknologi Laboratorium Medis (TLM) Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (FIKES Umsida).
Chylen Setiyo Rini SSi MSi, Dr Miftahul Mushlih SSi MSc dan Puspitasari SST MPH, bersama mahasiswa Aqiliyanti Nur Aini.
Penelitian yang dilakukan pada pekerja bangunan di Bangkalan menemukan bahwa 18 dari 28 responden terkonfirmasi terinfeksi jamur penyebab Tinea unguium.
Baca Juga: Olah Limbah Cangkang Kupang, Mahasiswa TLM Umsida Raih Juara 2 PKP2 PTMA 2025
Temuan ini menunjukkan bahwa infeksi jamur kuku bukan sekadar persoalan estetika, tetapi dapat dikategorikan sebagai penyakit akibat kerja pada sektor konstruksi.
Lingkungan Kerja Lembap dan Risiko Infeksi

Lingkungan proyek konstruksi sering kali basah, berlumpur dan penuh paparan tanah.
Ditambah penggunaan sepatu tertutup dalam waktu lama, kondisi ini menciptakan kelembapan tinggi yang ideal bagi pertumbuhan jamur dermatofita.
Jamur seperti Epidermatophyton floccosum, Trichophyton rubrum dan Trichophyton mentagrophytes ditemukan mendominasi hasil kultur dalam penelitian tersebut.
Cek Selengkapnya: Riset Dosen TLM Ungkap Hubungan Merokok dan Risiko Kesehatan Mahasiswa
Jamur-jamur ini menghasilkan enzim keratinase yang mampu menguraikan keratin pada kuku, menyebabkan perubahan warna, penebalan, hingga kerapuhan kuku. Jika tidak diobati, infeksi dapat berlangsung lama dan berulang.
Tinea Unguium sebagai Penyakit Akibat Kerja
Tinea unguium sering dianggap masalah ringan karena tidak menimbulkan nyeri berat pada awalnya.
Namun pada pekerja konstruksi, infeksi ini dapat mengganggu aktivitas fisik, menimbulkan rasa tidak nyaman, bahkan berpotensi menyebar ke bagian tubuh lain.
Penelitian juga mengidentifikasi keberadaan jamur non-dermatofita seperti Aspergillus sp dan Scopulariopsis, yang menunjukkan bahwa spektrum infeksi kuku pada pekerja lapangan cukup luas.
Kondisi ini mempertegas bahwa sektor konstruksi memiliki faktor risiko khas yang perlu diakui dalam pendekatan kesehatan kerja.
Pentingnya Pencegahan dan Edukasi Kesehatan Kerja
Temuan penelitian ini menegaskan perlunya edukasi personal hygiene pada pekerja konstruksi, termasuk menjaga kebersihan kaki, mengeringkan kaki setelah bekerja, serta menggunakan alas kaki yang memungkinkan sirkulasi udara lebih baik.
Lihat Juga: Minyak Goreng di Pakai Berulang, Kebiasaan Sehari-hari yang Mengancam Kesehatan
Diagnosis melalui kultur pada media Sabouraud Dextrose Agar dan identifikasi mikroskopis memastikan bahwa infeksi dapat dikenali secara tepat.
Tinea unguium mungkin terlihat sepele, tetapi di sektor konstruksi ia dapat menjadi indikator lemahnya perlindungan kesehatan kerja.
Menganggapnya sebagai penyakit akibat kerja adalah langkah awal untuk membangun kesadaran preventif dan perlindungan yang lebih komprehensif bagi para pekerja lapangan.
Sumber: Riset mahasiswa TLM
Penulis: Elfira Armilia.























