Fikes.umsida.ac.id – Osteoporosis kerap disebut sebagai penyakit tulang keropos yang datang tanpa peringatan.
Banyak orang merasa tulangnya baik-baik saja hingga suatu hari mengalami jatuh ringan namun berujung patah tulang.
Padahal, kondisi ini berkembang perlahan sejak usia produktif dan sering luput dari perhatian.
Mengacu pada informasi kesehatan di laman Alodokter, osteoporosis terjadi ketika kepadatan tulang menurun sehingga tulang menjadi rapuh dan mudah patah, bahkan akibat benturan ringan.
Baca Juga: Anak Muda Mudah Lelah, Gaya Hidup atau Masalah Kesehatan?
Osteoporosis tidak hanya menyerang lansia. Proses penurunan regenerasi tulang mulai terjadi sejak usia sekitar 35 tahun. Artinya, gaya hidup dan kebiasaan sejak muda sangat menentukan kualitas tulang di masa depan.
Gejala Minim, Risiko Maksimal
Salah satu alasan osteoporosis berbahaya adalah karena gejalanya sering tidak terasa.
Banyak penderita baru menyadari setelah mengalami patah tulang, nyeri punggung akibat tulang belakang yang melemah, postur tubuh membungkuk, atau tinggi badan yang perlahan berkurang.
Menurut Alodokter, kondisi ini lebih sering dialami perempuan pascamenopause karena penurunan hormon estrogen yang berperan penting dalam menjaga kepadatan tulang.
Cek Juga: Playground Bukan Tempat Bayi 1 Bulan, Ini Peringatan Pakar Umsida
Selain faktor usia dan hormon, risiko osteoporosis juga meningkat akibat kekurangan vitamin D, rendahnya kadar kalsium, jarang berolahraga, gangguan hormon, konsumsi obat tertentu, serta kebiasaan merokok.
Sayangnya, faktor-faktor ini sering dianggap sepele dalam keseharian, padahal dampaknya baru terasa bertahun-tahun kemudian.
Mencegah Lebih Bijak daripada Mengobati

Pengobatan osteoporosis bertujuan mencegah patah tulang lebih lanjut. Berdasarkan rujukan Alodokter, dokter dapat memberikan terapi obat seperti bifosfonat, antibodi monoklonal, hingga terapi hormon, tergantung tingkat keparahan.
Namun, pencegahan tetap menjadi langkah paling bijak.
Cek Selengkapnya: Fisioterapi Umsida Jadi Tim Medis di Sidoarjo Run & Camp 2025 untuk Dukung Kesehatan Masyarakat
Berhenti merokok, rutin berolahraga, serta mencukupi asupan kalsium dan vitamin D adalah langkah sederhana namun krusial. Pemeriksaan kepadatan tulang juga dianjurkan, terutama bagi perempuan yang memasuki masa menopause.
Untuk kelompok lansia, konsumsi susu khusus usia lanjut dapat membantu menjaga kesehatan tulang.
Osteoporosis bukan sekadar persoalan usia tua, melainkan akumulasi kebiasaan hidup sejak muda.
Menjaga tulang berarti menjaga kualitas hidup, karena tulang yang kuat memungkinkan tubuh tetap aktif dan mandiri hingga usia lanjut.
Sumber: Alodokter
Penulis: Elfira Armilia























