Fikes.umsida.ac.id – Di balik pelayanan rumah sakit yang berjalan setiap hari, ada satu proses penting yang sering luput dari perhatian, yakni pengodean diagnosis.
Padahal, ketepatan kode diagnosis tidak hanya berdampak pada data medis, tetapi juga berpengaruh langsung terhadap klaim pembiayaan dan kondisi keuangan rumah sakit.
Riset yang dilakukan oleh dosen Manajemen Informasi Kesehatan (MIK) Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (FIKES Umsida), Resta Dwi Y. STrKes MKM, Suci Ariani SKom MSc.
Serta dosen Fisioterapi Herista Novia Widanti Ftr MFis, Riset yang dilakukan di RS ‘Aisyiyah Siti Fatimah Tulangan menunjukkan bahwa masih terdapat ketidakakuratan dalam pengodean diagnosis cedera .
Kesalahan Kode Diagnosis Berdampak pada Proses Klaim
Dalam sistem pelayanan kesehatan saat ini, kode diagnosis menjadi dasar utama dalam proses klaim pembiayaan, termasuk klaim BPJS Kesehatan. Setiap tindakan medis yang dilakukan harus sesuai dengan kode diagnosis yang tercatat dalam rekam medis.
Namun, ketika terjadi kesalahan dalam pengodean, proses klaim dapat terganggu. Data yang tidak sesuai berpotensi menyebabkan klaim ditolak, tertunda, atau bahkan memicu dispute antara rumah sakit dan pihak penjamin.
Penelitian ini menunjukkan bahwa ketidakakuratan kode diagnosis sering terjadi akibat informasi yang tidak lengkap, seperti tidak dicantumkannya jenis cedera atau penyebab kejadian secara detail.
“Ketidaktepatan kode diagnosis dan tindakan medis berpengaruh terhadap pembiayaan pelayanan kesehatan, termasuk terjadinya dispute claim atau pending klaim,” sebagaimana dijelaskan dalam penelitian tersebut.
Dampak Finansial yang Tidak Bisa Diabaikan
Kesalahan dalam pengodean diagnosis bukan hanya berdampak administratif, tetapi juga berpengaruh pada stabilitas keuangan rumah sakit. Klaim yang tertunda atau ditolak dapat menghambat aliran dana operasional, sehingga berdampak pada keberlangsungan pelayanan.
Selain itu, ketidakakuratan data juga dapat menimbulkan ketidaksesuaian dalam laporan keuangan dan statistik rumah sakit. Dalam jangka panjang, hal ini bisa memengaruhi perencanaan anggaran dan pengambilan keputusan manajerial.
Penelitian ini juga menemukan bahwa seluruh rekam medis yang diteliti tidak mencantumkan kode external cause secara lengkap, yang seharusnya menjadi bagian penting dalam pengodean kasus cedera.
Kondisi ini menunjukkan adanya celah dalam sistem pencatatan yang berpotensi menimbulkan kerugian finansial bagi rumah sakit.
Perlu Perbaikan Sistem dan SDM
Untuk mengatasi permasalahan ini, diperlukan langkah perbaikan yang menyeluruh, baik dari sisi sistem maupun sumber daya manusia. Peningkatan kualitas dokumentasi medis oleh dokter menjadi hal yang sangat penting agar data yang dihasilkan lebih lengkap dan akurat.
Selain itu, pelatihan bagi koder juga perlu ditingkatkan agar mereka memahami standar pengodean yang sesuai dengan ICD-10. Penelitian ini juga menyoroti bahwa beberapa koder belum memiliki latar belakang sebagai perekam medis, sehingga memengaruhi kualitas pengodean.
Kolaborasi antara dokter dan koder menjadi kunci dalam memastikan keakuratan data. Dengan komunikasi yang baik, kesalahan dalam pengodean dapat diminimalisir.
Pada akhirnya, ketepatan kode diagnosis bukan hanya soal administrasi, tetapi juga berkaitan dengan kualitas pelayanan dan keberlanjutan finansial rumah sakit. Ketika data dikelola dengan baik, pelayanan pun akan berjalan lebih optimal dan berkelanjutan.
Sumber: Riset Resta Dwi Y. STrKes MKM
Penulis: Elfira Armilia























