Antibakteri Alami, Ekstrak Daun Kumis Kucing Terbukti Hambat Bakteri ISK

Fikes.umsida.ac.id – Infeksi Saluran Kemih (ISK) masih menjadi salah satu masalah kesehatan yang cukup sering terjadi di masyarakat.

Organisasi Kesehatan Dunia mencatat jutaan kasus ISK terjadi setiap tahun dan perempuan menjadi kelompok yang lebih rentan mengalaminya .

Baca Juga: Olah Limbah Cangkang Kupang, Mahasiswa TLM Umsida Raih Juara 2 PKP2 PTMA 2025

Selama ini, penanganan ISK identik dengan pemberian antibiotik.

Namun, meningkatnya risiko resistensi antibiotik mendorong pencarian alternatif berbasis herbal yang terbukti secara ilmiah.

Salah satu tanaman yang menarik perhatian adalah daun kumis kucing (Orthosiphon aristatus).

Potensinya sebagai antibakteri dikaji dalam penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa Teknologi Laboratorium Medis (TLM) Khairun Nisak.

Bersama dosen Chylen Setiyo Rini, SSi MSi dari Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Fikes Umsida).

Penelitian ini menguji efektivitas ekstrak daun kumis kucing terhadap dua bakteri penyebab ISK, yakni Proteus mirabilis dan Staphylococcus saprophyticus.

Senyawa Aktif yang Mendukung Aktivitas Antibakteri
Sumber: Pexels

Daun kumis kucing dikenal sebagai tanaman obat tradisional yang memiliki berbagai kandungan senyawa bioaktif.

Hasil uji fitokimia dalam penelitian tersebut menunjukkan adanya alkaloid, saponin, steroid, triterpenoid, fenolik dan tanin .

Cek Selengkapnya: PKL Dasar dan Lanjutan D4 TLM Umsida Jadi Bekal Penting Mahasiswa Hadapi Industri Kesehatan

Senyawa-senyawa ini diketahui memiliki mekanisme kerja yang dapat merusak membran sel bakteri, mengganggu metabolisme, hingga menghambat pertumbuhan mikroorganisme patogen.

Senyawa fenolik misalnya, bekerja dengan merusak struktur protein dinding sel bakteri.

Saponin meningkatkan permeabilitas membran sehingga isi sel bocor keluar. Kombinasi senyawa inilah yang diduga memberikan efek antibakteri yang signifikan.

Dalam penelitian tersebut, metode yang digunakan adalah difusi cakram pada media Mueller Hinton Agar dengan variasi konsentrasi ekstrak 25%, 50%, 75%, dan 100% .

Hasilnya menunjukkan adanya peningkatan diameter zona hambat seiring bertambahnya konsentrasi ekstrak.

Konsentrasi 100 Persen Tunjukkan Daya Hambat Sangat Kuat

Data penelitian memperlihatkan bahwa pada konsentrasi 100%, ekstrak daun kumis kucing menghasilkan zona hambat rata-rata 21,22 mm terhadap Proteus mirabilis dan 20,71 mm terhadap Staphylococcus saprophyticus .

Berdasarkan klasifikasi daya hambat, angka tersebut termasuk kategori sangat kuat.

Cek Juga: Riset Ungkap Bahaya Infeksi Jamur Kuku yang Kerap Diabaikan tapi Berisiko Kronis

Sementara itu, kontrol negatif menggunakan DMSO 10% tidak menunjukkan hambatan pertumbuhan bakteri, sedangkan kontrol positif berupa antibiotik ampisilin tetap memiliki daya hambat lebih besar .

Meski demikian, hasil uji statistik Anova menunjukkan nilai signifikansi p=0,000 yang berarti terdapat pengaruh nyata ekstrak terhadap pertumbuhan bakteri .

Temuan ini menegaskan bahwa ekstrak daun kumis kucing memiliki aktivitas antibakteri yang konsisten dan terukur secara ilmiah.

Peluang Pengembangan Fitofarmaka Lokal

Penelitian Khairun Nisak dan Chylen Setiyo Rini membuka peluang besar pengembangan tanaman herbal lokal menjadi kandidat fitofarmaka untuk membantu penanganan ISK.

Terlebih, tanaman kumis kucing telah lama digunakan masyarakat sebagai peluruh kencing dan antiinflamasi .

Meski masih membutuhkan penelitian lanjutan terkait uji klinis dan formulasi sediaan, hasil laboratorium ini menjadi langkah awal penting dalam validasi ilmiah obat tradisional.

Integrasi riset laboratorium dengan pemanfaatan tanaman lokal dapat menjadi solusi berkelanjutan di tengah tantangan resistensi antibiotik.

Daun kumis kucing bukan sekadar tanaman pekarangan.

Dengan bukti ilmiah yang terus berkembang, berpotensi menjadi alternatif herbal antibakteri yang relevan bagi kesehatan masyarakat.

Sumber: Riset Mahasiswa TLM

Penulis: Elfira Armilia

 

Berita Terkini

PKL D4 MIK Umsida Jadi Jembatan Mahasiswa Menuju Dunia Kerja Kesehatan
February 7, 2026By
PKL Dasar dan Lanjutan D4 TLM Umsida Jadi Bekal Penting Mahasiswa Hadapi Industri Kesehatan
February 6, 2026By
Fisioterapi UMSIDA Dampingi Pelari FK UMSIDA Run 2026 Lewat Layanan Pemulihan Otot
February 3, 2026By
FIKES Umsida Perkuat Kesiapan Mahasiswa lewat Program Pre Klinik S1 Fisioterapi
January 30, 2026By
Peran Strategis Mahasiswa D4 MIK Umsida dalam IPE Berbasis Kasus Klinis
January 29, 2026By
Ujian OSCE Kebidanan FIKES Umsida Jadi Bekal Mahasiswa Menuju Praktik Nyata
January 28, 2026By
Seminar Biologi Molekuler FIKES Umsida Bahas Diagnosis Virus Global Terkini
January 21, 2026By
FIKES Umsida dan STIKES Muhammadiyah Bojonegoro Kolaborasi Kembangkan Pembelajaran RPL
January 6, 2026By

Prestasi

Batu Karate Challenge Jadi Ajang Pembuktian Atlet Muda Umsida Raih Juara 3
January 7, 2026By
Perjuangan Hingga Final, Mahasiswa TLM Umsida Raih Juara 2 Batu Karate Challenge
January 5, 2026By
Rafi Bagus Pradenta Ukir Juara 1 Taekwondo KBPP POLRI Jatim Cup 3 Lewat Usaha dan Doa
January 3, 2026By
Debut Perdana di UPSCC 2025, Ria A. Arif Persembahkan Medali Perak untuk Umsida
January 2, 2026By
Konsistensi yang Berbuah Prestasi, Meiska Putri Yandri Raih Lulusan Terbaik MIK Umsida
January 1, 2026By
Di Tengah Peran Ganda, Yuyun Rahma Putri Raih Lulusan Terbaik FIKES Umsida
December 31, 2025By
Kisah Perjalanan Maura Aulia Ismail Menjadi Lulusan Terbaik MIK Umsida
December 27, 2025By
Prestasi Nasional, Mahasiswa TLM Umsida Sabet Juara 1 Poster PKM-RE PIMTANAS
December 24, 2025By

Opini

Kenali Penyebab Speech Delay Sejak Dini agar Anak Tumbuh Optimal
February 22, 2026By
KB Implan, Cara Praktis Menjaga Jarak Kehamilan Tetap Ideal
February 21, 2026By
Peran Bidan dalam Layanan Kesehatan Ibu dan Anak yang Perlu Diketahui
January 31, 2026By
Manfaat Fisioterapi untuk Pemulihan dan Pencegahan Gangguan Gerak Tubuh
January 26, 2026By
Seberapa Sering Pemeriksaan Kehamilan Harus Dilakukan? Ini Penjelasan Lengkapnya
January 25, 2026By