Fikes.umsida.ac.id – Anemia pada remaja putri bukan sekadar persoalan kurang darah. Di balik kondisi itu, tersimpan risiko jangka panjang yang dapat memengaruhi kualitas generasi berikutnya.
Data global menunjukkan prevalensi anemia remaja mencapai 29 persen, bahkan lebih tinggi di negara berkembang. Jika tidak ditangani sejak dini, anemia berpotensi meningkatkan risiko komplikasi kehamilan hingga melahirkan bayi stunting.
Berangkat dari kegelisahan itu, mahasiswa Manajemen Informasi Kesehatan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (MIK Umsida) Indah Diah Rahmawati.
Baca Juga: Mahasiswa KKN Edukasi Kesehatan Reproduksi Wanita Hingga Cegah Anemia
Bersama dosen Laili Rahmatul Ilmi AMd SKM MPH dan Dr Umi Khoirun Nisak SKM MEpid mengembangkan rancangan aplikasi deteksi dini anemia berbasis mobile sebagai solusi pencegahan stunting sejak masa remaja.
Anemia Remaja dan Ancaman Stunting
Penelitian yang dilakukan di Posyandu Remaja Desa Penatarsewu melibatkan 60 remaja putri.
Hasilnya, 20 persen responden memiliki kadar hemoglobin rendah. Angka ini menunjukkan bahwa satu dari lima remaja berisiko mengalami dampak kesehatan jangka panjang.
Anemia pada remaja putri dapat disebabkan oleh pola makan tidak seimbang, kebiasaan minum teh atau kopi setelah makan, kurang tidur, hingga kurangnya konsumsi vitamin C.
Lihat Juga: Peran Strategis Mahasiswa D4 MIK Umsida dalam IPE Berbasis Kasus Klinis
Jika kondisi ini terus berlanjut hingga masa kehamilan, risiko perdarahan, persalinan prematur, hingga bayi lahir dengan kondisi stunting menjadi lebih tinggi.
Karena itu, pencegahan anemia tidak bisa menunggu hingga seseorang menjadi ibu. Intervensi harus dimulai sejak remaja.
Inovasi Aplikasi Deteksi Dini Non-Invasif

Aplikasi deteksi dini anemia berbasis mobile ini menghadirkan fitur pencatatan konsumsi Tablet Tambah Darah (TTD), pengukuran hemoglobin, riwayat kesehatan, hingga konsultasi online .
Sistem ini dikembangkan menggunakan pendekatan Research and Development (R&D) serta dievaluasi berdasarkan model kesuksesan sistem informasi DeLone dan McLean .
Hasil analisis menunjukkan kualitas sistem, kualitas informasi, dan kualitas layanan memiliki hubungan signifikan terhadap kepuasan dan manfaat yang dirasakan pengguna.
Korelasi tertinggi ditemukan antara kepuasan pengguna dan manfaat bersih, dengan nilai ρ = 0,835 .
Artinya, semakin mudah, cepat dan informatif aplikasi digunakan, semakin besar dampak positif yang dirasakan remaja dalam menjaga kesehatannya.
Cek Juga: Riset Dosen Umsida Ungkap Tantangan Implementasi RME dalam SIMRS Rumah Sakit Tulangan Sidoarjo
Teknologi sebagai Strategi Pencegahan Generasi
Pendekatan digital ini menunjukkan bahwa edukasi dan deteksi dini tidak lagi terbatas pada pemeriksaan konvensional. Aplikasi berbasis mobile memungkinkan remaja memantau kesehatannya secara mandiri, praktis, dan berkelanjutan.
Integrasi teknologi dalam layanan kesehatan komunitas terbukti mampu meningkatkan keterlibatan pengguna serta memperkuat kualitas pelayanan berbasis masyarakat .
Inovasi ini menjadi bukti bahwa pencegahan stunting dapat dimulai dari langkah sederhana: memastikan remaja bebas anemia. Ketika kesehatan remaja terjaga, masa depan generasi pun ikut terlindungi.
Sumber: Riset Mahasiswa MIK Umsida
Penulis: Elfira Armilia























