Fikes.umsida.ac.id – Diabetes mellitus sering dikaitkan dengan masalah berat badan, terutama obesitas.
Banyak orang beranggapan bahwa semakin tinggi berat badan seseorang, maka semakin besar pula risiko mengalami komplikasi diabetes.
Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa kenyataannya tidak selalu sesederhana itu.
Berat badan memang menjadi salah satu indikator kesehatan, tetapi bukan satu-satunya faktor yang menentukan kondisi metabolisme tubuh.
Lihat Juga: Olah Limbah Cangkang Kupang, Mahasiswa TLM Umsida Raih Juara 2 PKP2 PTMA 2025
Riset yang dilakukan oleh mahasiswa dan dosen Program Studi Teknologi Laboratorium Medis (TLM) Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida).
Menjelaskan hubungan antara Indeks Massa Tubuh (IMT), kadar kolesterol dan kadar asam urat pada pasien diabetes mellitus.
Hasil penelitian ini memberikan gambaran bahwa kondisi metabolik pada penderita diabetes jauh lebih kompleks daripada sekadar angka pada timbangan.
Berat Badan dan Risiko Komplikasi Diabetes

Indeks Massa Tubuh (IMT) selama ini sering digunakan sebagai indikator untuk menilai apakah seseorang memiliki berat badan normal, kurang, atau berlebih.
Dalam konteks diabetes, IMT juga sering dijadikan acuan untuk memprediksi risiko komplikasi metabolik seperti kolesterol tinggi atau peningkatan kadar asam urat.
Namun hasil penelitian menunjukkan fakta yang cukup menarik. Dari 30 responden pasien diabetes yang diteliti, sebagian besar memang memiliki IMT tinggi.
Meski demikian, analisis statistik menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan signifikan antara IMT dengan kadar kolesterol maupun asam urat pada pasien diabetes.
Hasilnya bahwa berat badan yang tinggi tidak selalu menjadi penentu utama munculnya gangguan metabolisme pada penderita diabetes.
Baca Selengkapnya: Fikes Umsida Gelar Globinar, Ungkap Diabetes Tipe 2 Penyebab dan Pencegahannya
Faktor Lain yang Memengaruhi Kondisi Metabolik
Diabetes merupakan penyakit metabolik yang kompleks dan dipengaruhi oleh banyak faktor, mulai dari genetika, pola makan, hingga gaya hidup.
Peningkatan kadar kolesterol atau asam urat pada penderita diabetes bisa dipicu oleh berbagai kondisi lain.
Seperti konsumsi makanan tinggi lemak, kurangnya aktivitas fisik, hingga stres yang tidak terkelola dengan baik.
Dalam penelitian tersebut juga ditemukan bahwa kadar kolesterol pada pasien diabetes cenderung cukup tinggi, meskipun tidak selalu berkaitan langsung dengan IMT.
Baca Juga: Puasa Bisa Memengaruhi Hasil Tes Laboratorium? Ini Penjelasan Dosen TLM Umsida
Kondisi ini menunjukkan bahwa perubahan metabolisme pada penderita diabetes dapat terjadi secara independen dari berat badan.
Selain itu, gaya hidup modern seperti kebiasaan mengonsumsi makanan cepat saji, pola makan tinggi karbohidrat.
Serta kurangnya aktivitas fisik juga berperan besar dalam memicu gangguan metabolisme pada tubuh.
Pentingnya Pemeriksaan Kesehatan Secara Menyeluruh
Hasil riset ini memberikan pesan penting bahwa penilaian kesehatan pada penderita diabetes tidak bisa hanya mengandalkan satu indikator seperti berat badan saja.
Pemeriksaan kesehatan yang komprehensif sangat diperlukan untuk memantau berbagai parameter metabolik dalam tubuh.
Pemeriksaan laboratorium seperti pengukuran kadar kolesterol, asam urat, serta parameter metabolik lainnya menjadi langkah penting untuk mendeteksi risiko komplikasi secara lebih dini.
Dengan pemantauan yang tepat, penderita diabetes dapat memperoleh penanganan yang lebih efektif sekaligus mencegah munculnya komplikasi yang lebih serius di kemudian hari.
Dengan kata lain, menjaga kesehatan bagi penderita diabetes tidak hanya soal menurunkan berat badan.
Tetapi juga mengelola gaya hidup dan melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin agar kondisi metabolisme tubuh tetap terkontrol.























