Riset Dosen Kebidanan Ungkap Nyeri dan Stres sebagai Hambatan Laktasi Pasca SC

Fikes.umsida.ac.id – Proses melahirkan melalui sectio sesarea (SC) tidak hanya meninggalkan luka fisik, tetapi juga beban psikologis yang kerap luput dari perhatian.

Banyak ibu pasca operasi mengeluhkan ASI yang belum keluar atau produksi yang terasa kurang pada hari-hari pertama.

Kondisi ini bukan semata persoalan biologis, melainkan hasil interaksi antara nyeri, stres dan mekanisme hormonal yang kompleks.

Dalam riset yang dilakukan oleh Dr Rafhani Rosyidah, S Keb Bd MSc bersama Dr Nurul Azizah S Keb Bd MSc, dosen Kebidanan Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida).

Baca Juga: Playground Bukan Tempat Bayi 1 Bulan, Ini Peringatan Pakar Umsida

Menjelaskan bahwa ibu pasca sectio sesarea memiliki risiko lebih tinggi mengalami keterlambatan laktogenesis dibandingkan persalinan normal.

Penelitian tersebut menyoroti bagaimana faktor nyeri dan tekanan emosional menjadi penghambat utama refleks pengeluaran ASI.

Nyeri Luka Operasi dan Hambatan Fisiologis

Nyeri akibat luka operasi menyebabkan ibu sulit bergerak dan enggan melakukan mobilisasi dini.

Padahal, posisi menyusui yang nyaman dan kontak kulit antara ibu dan bayi sangat berperan dalam merangsang hormon oksitosin.

Ketika ibu merasakan nyeri berlebih, tubuh memproduksi hormon stres seperti adrenalin dan kortisol yang justru menghambat pelepasan oksitosin.

Lihat Juga: Riset Dosen Kebidanan Ungkap Minimnya ANC pada Ibu Hamil Remaja dan Risiko terhadap Janin

Dalam konteks fisiologi laktasi, oksitosin berfungsi dalam proses let-down reflex atau pengeluaran ASI.

Tanpa pelepasan hormon ini secara optimal, ASI yang sebenarnya sudah diproduksi oleh prolaktin menjadi sulit keluar.

Inilah sebabnya banyak ibu SC merasa ASI “belum keluar”, padahal secara biologis proses produksi sudah dimulai.

Stres dan Kecemasan sebagai Penghambat Emosional

Selain nyeri fisik, stres psikologis juga memperburuk kondisi laktasi. Ibu pasca operasi sering kali merasa cemas, takut bergerak, bahkan khawatir tidak mampu merawat bayinya.

Beberapa juga mengalami pemisahan sementara dengan bayi akibat prosedur medis, sehingga proses bonding terganggu.

Riset Dr Rafhani Rosyidah dan Dr Nurul Azizah menjelaskan bahwa kondisi emosional ibu sangat memengaruhi kerja sistem limbik di otak, yang berperan dalam regulasi hormon oksitosin.

Ketika ibu merasa tenang dan rileks, pelepasan oksitosin meningkat.

Sebaliknya, kecemasan dan tekanan emosional dapat memperlambat respons hormonal yang dibutuhkan untuk kelancaran ASI.

Pendekatan Holistik dalam Mendukung Laktasi
Sumber: Pexels

Temuan ini menegaskan bahwa keberhasilan menyusui pada ibu pasca SC membutuhkan pendekatan yang lebih holistik.

Pengelolaan nyeri yang adekuat, dukungan emosional, serta intervensi seperti pijat punggung dan aromaterapi menjadi strategi yang dapat membantu merangsang relaksasi dan produksi oksitosin.

Cek Selengkapnya: Mengungkap Kerentanan Ibu Primigravida terhadap Emesis Gravidarum, Tantangan Awal Kehamilan yang Perlu Diwaspadai

Kehamilan dan persalinan bukan sekadar peristiwa medis, melainkan pengalaman emosional yang memerlukan pendampingan.

Ketika nyeri dan stres dikelola dengan baik, peluang keberhasilan laktasi meningkat, sekaligus memperkuat komitmen pemberian ASI eksklusif bagi bayi.

Sumber: Riset Dr Rafhani Rosyidah, S Keb Bd MSc & Tim

Penulis: Elfira Armilia

Berita Terkini

PKL D4 MIK Umsida Jadi Jembatan Mahasiswa Menuju Dunia Kerja Kesehatan
February 7, 2026By
PKL Dasar dan Lanjutan D4 TLM Umsida Jadi Bekal Penting Mahasiswa Hadapi Industri Kesehatan
February 6, 2026By
Fisioterapi UMSIDA Dampingi Pelari FK UMSIDA Run 2026 Lewat Layanan Pemulihan Otot
February 3, 2026By
FIKES Umsida Perkuat Kesiapan Mahasiswa lewat Program Pre Klinik S1 Fisioterapi
January 30, 2026By
Peran Strategis Mahasiswa D4 MIK Umsida dalam IPE Berbasis Kasus Klinis
January 29, 2026By
Ujian OSCE Kebidanan FIKES Umsida Jadi Bekal Mahasiswa Menuju Praktik Nyata
January 28, 2026By
Seminar Biologi Molekuler FIKES Umsida Bahas Diagnosis Virus Global Terkini
January 21, 2026By
FIKES Umsida dan STIKES Muhammadiyah Bojonegoro Kolaborasi Kembangkan Pembelajaran RPL
January 6, 2026By

Prestasi

Batu Karate Challenge Jadi Ajang Pembuktian Atlet Muda Umsida Raih Juara 3
January 7, 2026By
Perjuangan Hingga Final, Mahasiswa TLM Umsida Raih Juara 2 Batu Karate Challenge
January 5, 2026By
Rafi Bagus Pradenta Ukir Juara 1 Taekwondo KBPP POLRI Jatim Cup 3 Lewat Usaha dan Doa
January 3, 2026By
Debut Perdana di UPSCC 2025, Ria A. Arif Persembahkan Medali Perak untuk Umsida
January 2, 2026By
Konsistensi yang Berbuah Prestasi, Meiska Putri Yandri Raih Lulusan Terbaik MIK Umsida
January 1, 2026By
Di Tengah Peran Ganda, Yuyun Rahma Putri Raih Lulusan Terbaik FIKES Umsida
December 31, 2025By
Kisah Perjalanan Maura Aulia Ismail Menjadi Lulusan Terbaik MIK Umsida
December 27, 2025By
Prestasi Nasional, Mahasiswa TLM Umsida Sabet Juara 1 Poster PKM-RE PIMTANAS
December 24, 2025By

Opini

Peran Bidan dalam Layanan Kesehatan Ibu dan Anak yang Perlu Diketahui
January 31, 2026By
Manfaat Fisioterapi untuk Pemulihan dan Pencegahan Gangguan Gerak Tubuh
January 26, 2026By
Seberapa Sering Pemeriksaan Kehamilan Harus Dilakukan? Ini Penjelasan Lengkapnya
January 25, 2026By
Manfaat Pijat Bayi yang Perlu Diketahui Orang Tua
January 24, 2026By
Jangan Asal Pilih! Ini Tips Memilih Mainan Edukasi Anak Usia 3 Tahun
January 23, 2026By