Fikes.umsida.ac.id – Masa setelah melahirkan sering dianggap sebagai fase penuh kebahagiaan bagi seorang ibu. Namun di balik hadirnya bayi, banyak ibu nifas justru mengalami tekanan emosional yang tidak terlihat.
Sulit tidur, overthinking, mudah panik, hingga merasa tidak tenang menjadi kondisi yang ternyata cukup sering dialami ibu setelah persalinan.
Dosen Kebidanan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (FIKES Umsida), Hesty Widowati SKeb Bd MKeb, menjelaskan bahwa kondisi tersebut termasuk bagian dari gangguan kecemasan pada ibu nifas atau postpartum anxiety .
Baca Juga: Asam Folat Untuk Ibu Hamil? Ini Kata Pakar Kebidanan Umsida
Overthinking Setelah Melahirkan Bukan Hal Sepele

Dalam materi edukasi yang disusun Hesty Widowati, dijelaskan bahwa postpartum anxiety merupakan kondisi kekhawatiran berlebihan yang menetap setelah melahirkan.
Kecemasan ini biasanya berkaitan dengan kondisi bayi, kemampuan menjadi ibu, hingga rasa takut terhadap hal-hal buruk yang belum tentu terjadi .
Banyak ibu nifas mengalami pikiran negatif berulang atau overthinking. Mereka terus merasa khawatir bayinya sakit, takut melakukan kesalahan saat merawat bayi, hingga merasa tidak mampu menjalani peran sebagai ibu baru.
Lihat Juga: Riset Dosen Kebidanan Umsida Ungkap Peran Usia dalam Keberhasilan Laktasi
Tidak hanya itu, ibu nifas juga sering mengalami sulit konsentrasi, mudah terkejut, gelisah, dan merasa tidak tenang sepanjang waktu . Kondisi ini membuat tubuh dan pikiran sulit beristirahat meskipun sebenarnya sudah sangat lelah.
Menurut data yang dipaparkan dalam materi tersebut, sekitar 20 persen wanita pasca melahirkan mengalami gejala kecemasan dan panik, sedangkan kasus baby blues dapat terjadi pada 50–80 persen ibu setelah melahirkan .
Gangguan Tidur Bisa Memengaruhi Kondisi Ibu dan Bayi
Salah satu dampak paling umum dari postpartum anxiety adalah gangguan tidur atau insomnia. Banyak ibu tetap sulit tidur meskipun bayi sedang tertidur. Pikiran yang terus bekerja membuat tubuh sulit rileks.
Hesty menjelaskan bahwa kecemasan yang tidak ditangani dapat memengaruhi kualitas hidup ibu secara keseluruhan. Ibu menjadi mudah lelah, sulit fokus, bahkan merasa tidak mampu menjalankan perannya dengan baik .
Dampaknya tidak berhenti pada ibu saja. Gangguan kecemasan juga dapat memengaruhi proses bonding antara ibu dan bayi. Bayi bisa menjadi lebih rewel, sementara ibu merasa kurang percaya diri dalam menyusui.
Selain itu, stres dan kecemasan juga berisiko menurunkan produksi ASI sehingga meningkatkan kemungkinan penghentian ASI eksklusif lebih dini .
Dukungan dan Relaksasi Jadi Hal Penting

Menurut dosen kebidanan kondisi emosional ibu nifas perlu mendapatkan perhatian yang sama pentingnya dengan kesehatan fisik setelah persalinan. Dukungan pasangan dan keluarga menjadi faktor besar dalam membantu ibu merasa lebih tenang dan nyaman.
Ia juga menjelaskan bahwa beberapa terapi komplementer seperti akupresur, massage, aromaterapi, hingga senam nifas dapat membantu mengurangi kecemasan pada ibu postpartum .
Pada akhirnya, ibu nifas tidak hanya membutuhkan pemulihan fisik, tetapi juga ruang untuk merasa dipahami dan didukung. Sebab di balik senyum seorang ibu baru, terkadang ada rasa lelah dan kecemasan yang diam-diam sedang mereka hadapi sendiri.(Elfirarm)























