fikes.umsida.ac.id-Dengan menggunakan metode Functional Movement Screening (FMS), penelitian yang dilakukan oleh dosen Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Fikes Umsida) memberikan wawasan tentang pentingnya pencegahan cedera sebelum atlet mengalami dampak yang lebih serius.
Baca Juga: Seminar Pembentukan Kader GRASS Guna Meningkatkan Derajat Kesehatan Masyarakat Sidoarjo
Dalam dunia olahraga, cedera merupakan tantangan yang sering dihadapi oleh atlet, baik profesional maupun pemula. Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) melalui Unit Kegiatan Olahraga Daerah (UKORDA) melakukan penelitian untuk mendeteksi risiko cedera pada para atletnya, dengan menggunakan metode Functional Movement Screening (FMS).

Evaluasi Risiko Cedera dengan Functional Movement Screening (FMS)
Functional Movement Screening (FMS) adalah metode penilaian yang digunakan untuk mengidentifikasi potensi cedera berdasarkan pola gerakan dasar tubuh. Dalam penelitian ini, atlet UKORDA Umsida menjalani serangkaian uji gerakan untuk mengukur keseimbangan, fleksibilitas, dan stabilitas tubuh.
Metode Functional Movement Screening (FMS) melibatkan tujuh tes utama yang masing-masing memiliki tujuan spesifik:
-
Deep Squat (Jongkok Dalam)
- Tes ini mengevaluasi keseimbangan, fleksibilitas pergelangan kaki, pinggul, dan bahu.
- Atlet yang mengalami kesulitan dalam jongkok secara sempurna menandakan adanya keterbatasan mobilitas di salah satu atau beberapa area tubuh.
-
Hurdle Step (Langkah Rintangan)
- Menguji stabilitas pinggul dan koordinasi antara tubuh bagian atas dan bawah.
- Atlet yang mendapatkan skor rendah menunjukkan adanya kelemahan dalam kontrol postur dan keseimbangan tubuh, yang berisiko meningkatkan cedera pada tungkai bawah.
-
In-Line Lunge (Lunge Lurus)
- Mengukur keseimbangan, stabilitas, serta kontrol tubuh selama gerakan fungsional.
- Hasil evaluasi yang buruk menunjukkan kemungkinan kelemahan pada stabilitas inti dan fleksibilitas pinggul yang terbatas.
-
Shoulder Mobility (Mobilitas Bahu)
- Bertujuan untuk mengukur fleksibilitas sendi bahu serta keseimbangan antara otot dada dan punggung.
- Atlet yang memiliki keterbatasan mobilitas pada bahu berisiko mengalami cedera pada bagian tubuh atas, terutama dalam cabang olahraga yang melibatkan banyak gerakan tangan seperti voli atau bulu tangkis.
-
Active Straight Leg Raise (Mengangkat Kaki Lurus)
- Tes ini mengevaluasi fleksibilitas hamstring dan mobilitas panggul.
- Jika seorang atlet mengalami keterbatasan dalam mengangkat kakinya dengan lurus, maka kemungkinan besar mereka memiliki risiko cedera akibat ketidakseimbangan otot di tubuh bagian bawah.
-
Trunk Stability Push-Up (Push-Up Stabilitas Inti)
- Mengukur seberapa baik stabilitas inti (core stability) atlet dalam melakukan gerakan fungsional.
- Skor rendah menunjukkan kurangnya kontrol otot inti yang dapat meningkatkan risiko cedera pada punggung bawah.
-
Rotary Stability (Stabilitas Rotasi Tubuh)
- Menguji koordinasi gerakan tubuh dan stabilitas inti saat melakukan gerakan asimetris.
- Atlet yang mengalami kesulitan dalam gerakan ini menunjukkan potensi ketidakseimbangan otot yang dapat berdampak pada risiko cedera saat melakukan gerakan kompleks dalam olahraga.
Setiap tes diberikan skor antara 0 hingga 3:
- 3 = Gerakan sempurna tanpa adanya kompensasi postur.
- 2 = Gerakan bisa dilakukan dengan sedikit kompensasi.
- 1 = Gerakan hanya bisa dilakukan dengan kesulitan yang signifikan.
- 0 = Atlet mengalami nyeri saat melakukan gerakan, yang menunjukkan adanya masalah cedera yang perlu diperiksa lebih lanjut.
Hasil dari penelitian dengan menggunakan metode Functional Movement Screening (FMS) menunjukkan bahwa 6 atlet masuk dalam kategori risiko cedera sangat tinggi, 10 atlet memiliki potensi cedera sedang-tinggi, dan 9 atlet berada dalam kategori sedang-rendah. Tidak ada atlet yang masuk dalam kategori risiko cedera rendah, yang menandakan pentingnya program pencegahan dan pelatihan yang lebih terstruktur untuk meningkatkan kebugaran dan mengurangi risiko cedera di masa depan.
Faktor Risiko Cedera pada Atlet dan Pentingnya Pencegahan

Hasil penelitian dengan menggunakan metode Functional Movement Screening (FMS) menunjukkan bahwa cedera dalam olahraga tidak hanya terjadi karena benturan fisik, tetapi juga karena beberapa faktor lain seperti:
-
Kurangnya latihan stabilitas dan keseimbangan
- Banyak atlet mendapatkan skor rendah pada tes hurdle step dan trunk stability push-up, yang menunjukkan perlunya latihan tambahan untuk meningkatkan stabilitas tubuh.
-
Kurangnya kesadaran terhadap teknik gerakan yang benar
- Atlet yang belum memahami cara melakukan gerakan fungsional dengan baik lebih rentan mengalami cedera akibat postur yang salah.
-
Overtraining atau latihan yang tidak sesuai dengan kapasitas tubuh
- Latihan yang terlalu intens tanpa pemulihan yang cukup dapat menyebabkan ketegangan otot yang berlebihan dan meningkatkan risiko cedera.
Sebagai langkah preventif, Umsida menekankan pentingnya program latihan yang fokus pada pencegahan cedera. Hasil Functional Movement Screening (FMS) ini memberikan panduan bagi pelatih dan atlet untuk menyesuaikan pola latihan agar lebih efektif dalam meningkatkan stabilitas, fleksibilitas, dan keseimbangan tubuh.
Masa Depan Pencegahan Cedera dengan Teknologi dalam Olahraga
Penerapan Functional Movement Screening (FMS) dalam lingkungan olahraga akademik seperti di UKORDA Umsida menunjukkan bahwa metode ini dapat membantu mengidentifikasi dan mengurangi risiko cedera atlet sejak dini. Ke depan, integrasi teknologi dalam olahraga, seperti sensor gerakan dan kecerdasan buatan (artificial intelligence), dapat semakin meningkatkan akurasi analisis gerakan atlet.
Baca Juga: Fasciitis Plantaris dan Efektivitas Fisioterapi dalam Pemulihan Nyeri Tumit
Dengan pemantauan yang lebih baik dan metode pencegahan yang tepat, diharapkan angka cedera dalam dunia olahraga dapat diminimalkan. Hal ini memungkinkan para atlet untuk mencapai performa terbaik mereka tanpa gangguan cedera yang berulang.
Umsida terus berkomitmen dalam mendukung kesehatan dan keselamatan atlet melalui penelitian berbasis teknologi serta pendekatan ilmiah dalam bidang olahraga. Dengan strategi pelatihan yang lebih canggih, atlet dapat berlatih secara optimal dan memiliki ketahanan fisik yang lebih baik dalam menghadapi kompetisi.