Fikes.umsida.ac.id – Tidak sedikit ibu baru yang merasa kecewa ketika ASI yang keluar tidak sebanyak harapan. Padahal, masalah produksi ASI tidak selalu dipengaruhi kondisi fisik.
Faktor psikologis seperti stres, cemas, sedih, hingga tekanan emosional setelah melahirkan ternyata juga memiliki pengaruh besar terhadap kelancaran ASI.
Dalam riset dosen Kebidanan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (FIKES Umsida) tentang efektivitas pijat oksitosin terhadap produksi ASI, dijelaskan bahwa faktor psikologis menjadi salah satu penyebab ibu gagal memberikan ASI eksklusif pada bayinya .
Kondisi seperti stres, rasa kacau, marah, hingga kurangnya dukungan keluarga dapat memengaruhi hormon yang berperan dalam proses laktasi.
Baca Juga: Asam Folat Untuk Ibu Hamil? Ini Kata Pakar Kebidanan Umsida
Emosi Ibu Berpengaruh pada Hormon Oksitosin

Saat ibu mengalami tekanan emosional, tubuh akan lebih sulit memproduksi hormon oksitosin secara optimal. Padahal hormon ini memiliki peran penting dalam membantu pengeluaran ASI. Ketika hormon oksitosin terganggu, ASI bisa menjadi lebih sedikit atau keluar lebih lambat.
Kondisi ini sering membuat ibu merasa panik dan berpikir bahwa dirinya tidak mampu menyusui dengan baik. Akibatnya, stres justru semakin meningkat dan memperburuk produksi ASI.
Penelitian tersebut juga menjelaskan bahwa rasa nyaman dan relaks pada ibu dapat membantu meningkatkan hormon oksitosin, sehingga ASI menjadi lebih lancar . Karena itu, kondisi mental ibu setelah melahirkan tidak boleh dianggap sepele.
Lihat Selengkapnya: Seminar Nasional Kebidanan Umsida Bahas Kesehatan Mental Ibu Nifas dan Terapi Akupresur
Dukungan Keluarga Sangat Dibutuhkan
Banyak ibu baru menghadapi tekanan dari lingkungan sekitar, mulai dari tuntutan agar ASI cepat keluar hingga komentar yang membuat ibu merasa gagal ketika bayi rewel. Padahal, kondisi emosional ibu sangat sensitif pada masa nifas.
Kurangnya perhatian dan dukungan dari pasangan maupun keluarga dapat membuat ibu merasa sendirian dalam menghadapi proses menyusui.
Sebaliknya, dukungan sederhana seperti membantu merawat bayi, memberikan semangat, atau menemani ibu saat menyusui dapat membantu menciptakan suasana lebih tenang.
Ketika ibu merasa aman dan didukung, tubuh akan lebih rileks sehingga proses produksi ASI berjalan lebih baik.
Lihat Juga: Pentingnya Vaksinasi Bayi Sejak Dini, Ini Penjelasan Menurut Ahli
Menjaga Mental Ibu Sama Pentingnya dengan Nutrisi Bayi

Selama ini, pembahasan tentang menyusui sering hanya fokus pada kebutuhan bayi. Padahal, kesehatan mental ibu juga menjadi bagian penting dalam keberhasilan ASI eksklusif.
Ibu yang bahagia dan tenang cenderung lebih percaya diri dalam menyusui. Karena itu, pendekatan dalam mendukung ibu menyusui tidak cukup hanya dengan edukasi teknis, tetapi juga perlu memperhatikan kondisi emosional mereka.
Pada akhirnya, produksi ASI bukan hanya soal makanan bergizi atau suplemen, tetapi juga tentang bagaimana seorang ibu merasa dihargai, didukung, dan dipahami selama menjalani fase setelah melahirkan.(Elfirarm)
Sumber: Riset Sri M. F.Hanum SST MM MKes & Tim























