Fikes.umsida.ac.id – D4 Teknologi Laboratorium Medis (TLM) Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) menggelar kegiatan Public Speaking Workshop bertajuk “Clinical Talk: Public Speaking sebagai Kompetensi Profesional Mahasiswa Kesehatan” (09/05/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Aula GKB 4 Lantai 4 Kampus 2 Umsida ini menghadirkan Nur Maghfirah Aesthetika MMedKom dosen Ilmu Komunikasi Umsida sebagai pemateri utama.
Workshop tersebut diikuti mahasiswa kesehatan yang antusias mempelajari pentingnya kemampuan komunikasi dalam dunia medis dan pelayanan kesehatan.
Tidak hanya membahas teori komunikasi, seminar ini juga memberikan pelatihan praktis.
Mahasiswa kesehatan mampu menyampaikan informasi medis secara jelas, empatik dan profesional kepada pasien maupun masyarakat.
“Public speaking di bidang kesehatan bukan hanya soal berbicara, tetapi bagaimana pesan medis bisa dipahami dengan baik dan memberikan dampak positif bagi pasien,” jelas dosen Ilmu Komunikasi tersebut.
Baca Juga: 8 Sesi Pelatihan Public Speaking Guru Muhammadiyah di Sidoarjo, Siapkan Visi Internasionalisasi
Public Speaking Jadi Kompetensi Penting Mahasiswa Kesehatan

Dalam pemaparannya, fira juga menjelaskan bahwa tenaga kesehatan perlu memahami model komunikasi yang tepat agar pesan yang disampaikan tidak menimbulkan kesalahpahaman.
Ia menggunakan Model Lasswell sebagai dasar komunikasi, mulai dari siapa komunikatornya, isi pesan, media yang digunakan, hingga efek yang ingin dicapai kepada audiens.
Menurutnya, komunikasi kesehatan harus dibuat sederhana dan mudah dipahami pasien.
“Informasi medis harus akurat, sederhana, dan terstruktur agar pasien lebih mudah memahami kondisi maupun tindakan yang harus dilakukan,” ujarnya.
Lihat Juga: Kolaborasi HIMA D4TLM UMSIDA dan IMATELKI untuk Penguatan Relasi Mahasiswa Teknologi Laboratorium Medis
Selain itu, mahasiswa juga dibekali pentingnya membangun kredibilitas saat berbicara di depan pasien maupun masyarakat.
Sikap profesional, intonasi suara, bahasa tubuh, hingga empati menjadi bagian penting dalam membangun kepercayaan.
Nur Maghfirah menambahkan bahwa tenaga kesehatan tidak cukup hanya pintar secara akademik, tetapi juga harus mampu berkomunikasi dengan baik.
“Cara bicara yang tenang, jelas, dan empatik sangat memengaruhi penerimaan pesan dari pasien,” jelasnya.
Sesi Tanya Jawab Berlangsung Aktif dan Interaktif

Tidak hanya teori, workshop ini juga membahas hambatan komunikasi yang sering dialami mahasiswa saat berbicara di depan umum.
Salah satunya adalah rasa gugup atau kurang percaya diri.
Dalam sesi tersebut, peserta diberikan teknik sederhana untuk mengatasi kecemasan, seperti latihan pernapasan, simulasi presentasi, hingga penyusunan struktur pesan yang efektif.
Pemateri juga mengajarkan teknik komunikasi interpersonal yang menekankan empati dan kemampuan mendengarkan aktif. Mahasiswa dilatih bagaimana merespons pasien dengan bahasa sederhana dan menenangkan.
“Mahasiswa kesehatan perlu belajar mendengarkan aktif dan memastikan pasien benar-benar memahami informasi yang diberikan,” ungkapnya.
Cek Selengkapnya: Siapkan Analis Laboratorium Unggul, FIKES Umsida Angkat Isu Diagnosis Virus Global
Kegiatan workshop berlangsung sangat interaktif dan penuh antusiasme. Hal tersebut terlihat dari banyaknya mahasiswa yang aktif mengajukan pertanyaan saat sesi tanya jawab berlangsung.
Berbagai pertanyaan muncul, mulai dari cara mengatasi rasa gugup ketika presentasi, teknik berbicara dengan pasien, hingga membangun kepercayaan diri saat praktik di lapangan.
Suasana diskusi yang hidup membuat mahasiswa tidak hanya mendapatkan materi secara teori, tetapi juga pengalaman langsung dalam memahami komunikasi profesional di bidang kesehatan.
Melalui kegiatan ini, FIKES Umsida berharap mahasiswa semakin siap menjadi tenaga kesehatan profesional yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga mampu berkomunikasi efektif di dunia kerja nantinya.(Elfirarm).























