Fikes.umsida.ac.id – Dalam dunia pelayanan kesehatan, tidak semua situasi bisa dihadapi dengan komunikasi biasa. Ada kondisi-kondisi sensitif seperti pasien yang sedang berduka, mengalami trauma, hingga menjadi korban kekerasan.
Di momen seperti ini, tenaga kesehatan dituntut tidak hanya profesional, tetapi juga mampu berkomunikasi dengan empati yang tinggi.
Dalam modul pembelajaran dosen kebidanan Umsida, Yanik Purwanti, SST MKeb, dijelaskan bahwa komunikasi dalam praktik kebidanan mencakup berbagai tantangan, termasuk komunikasi dalam kondisi spesifik seperti berduka, kehilangan, hingga kasus kekerasan .
Lihat Juga: Pendirian Daycare Lansia, Cara Abdimas Umsida Perkuat Layanan Sosial di Masyarakat
Komunikasi Tidak Selalu Bisa Disamakan

Setiap pasien datang dengan latar belakang emosi yang berbeda. Pasien yang sedang berduka, misalnya, membutuhkan pendekatan yang lebih halus dan penuh pengertian. Begitu pula dengan korban kekerasan yang sering kali mengalami trauma dan kesulitan untuk terbuka.
Dalam modul tersebut juga dijelaskan bahwa tenaga kesehatan perlu memahami kondisi psikososial pasien, termasuk emosi seperti kecemasan, kesedihan, hingga kemarahan . Hal ini penting agar komunikasi yang dilakukan tidak justru memperburuk kondisi pasien.
Artinya, komunikasi tidak bisa disamaratakan. Setiap situasi membutuhkan pendekatan yang berbeda, sesuai dengan kondisi emosional pasien.
Cek Juga: Rekam Medis Tidak Lengkap Jadi Masalah Utama, Ini Dampaknya bagi Pelayanan Rumah Sakit
Tantangan Besar: Empati dan Kehati-hatian
Berkomunikasi dalam situasi sensitif bukanlah hal mudah. Salah memilih kata dapat menimbulkan dampak besar, mulai dari kesalahpahaman hingga luka emosional yang lebih dalam.
Modul pembelajaran ini menekankan bahwa tenaga kesehatan harus memiliki empati, mampu memahami sudut pandang pasien, serta menunjukkan sikap menerima tanpa menghakimi. Dalam teori konseling, hal ini dikenal sebagai unconditional positive regard, yaitu menerima pasien apa adanya.
Selain itu, tenaga kesehatan juga perlu menjaga etika komunikasi, termasuk menjaga privasi pasien, menggunakan bahasa yang tepat, serta menghindari pertanyaan yang dapat menyinggung perasaan.
Lihat Selengkapnya: Perawatan Luka Persalinan Secara Herbal: Riset Ungkap Manfaat Daun Binahong
Perlu Keterampilan Khusus dalam Komunikasi Sensitif

Komunikasi dalam situasi sensitif membutuhkan keterampilan khusus yang tidak bisa diperoleh secara instan. Salah satunya adalah kemampuan mendengar aktif, yang memungkinkan tenaga kesehatan memahami kebutuhan pasien secara lebih mendalam.
Dalam modul juga dijelaskan bahwa mendengar aktif dapat membantu tenaga kesehatan memahami perasaan pasien dan membangun hubungan yang lebih baik. Dengan demikian, pasien akan merasa lebih aman untuk terbuka.
Pada akhirnya, komunikasi dalam pelayanan kesehatan bukan hanya soal menyampaikan informasi, tetapi juga tentang bagaimana hadir sebagai manusia yang memahami manusia lainnya.
Dalam situasi sensitif, empati dan kepekaan menjadi kunci utama untuk menciptakan pelayanan yang benar-benar bermakna.
Sumber: Modul Pembelajaran Yanik Purwanti SST MKeb
Penulis: Elfira Armilia






















