Fikes.umsida.ac.id – kehamilan bukan hanya membawa perubahan fisik, tetapi juga perubahan psikologis yang cukup signifikan. Banyak ibu hamil mengalami perubahan emosi yang naik turun, mulai dari rasa bahagia, cemas, hingga sensitif berlebihan.
Hal ini merupakan kondisi yang wajar karena adanya perubahan hormon dalam tubuh, terutama hormon estrogen dan progesteron yang memengaruhi suasana hati.
Dalam modul pembelajaran kebidanan Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) yang disusun oleh dosen kebidanan Evi Rinata SST MKeb dan Siti Cholifah SST MKeb.
Pada trimester pertama, ibu hamil sering kali mengalami campuran emosi. Di satu sisi merasa bahagia karena kehadiran calon buah hati, namun di sisi lain muncul rasa khawatir terhadap kondisi janin maupun kesiapan diri menjadi seorang ibu.
Perasaan ini sering membuat ibu lebih mudah lelah secara emosional dan membutuhkan dukungan dari orang terdekat.
Lihat Juga: Hubungan Bidan dan Pasien, Menjaga Profesionalisme Tanpa Kehilangan Empati
Mood Swing dan Sensitivitas Emosi

Salah satu perubahan psikologis yang paling umum terjadi selama kehamilan adalah mood swing atau perubahan suasana hati yang cepat. Ibu hamil bisa merasa sangat senang dalam satu waktu, lalu tiba-tiba merasa sedih atau marah tanpa alasan yang jelas.
Kondisi ini dipengaruhi oleh perubahan hormon yang drastis serta adaptasi tubuh terhadap kehamilan. Selain itu, ibu hamil juga cenderung menjadi lebih sensitif terhadap lingkungan sekitar, termasuk perkataan orang lain.
Hal-hal kecil yang sebelumnya dianggap biasa bisa terasa lebih mengganggu.
Oleh karena itu, penting bagi pasangan dan keluarga untuk memberikan dukungan emosional. Sikap pengertian dan komunikasi yang baik dapat membantu ibu hamil merasa lebih tenang dan nyaman selama menjalani masa kehamilan.
Baca Juga: Ibu Hamil Wajib Tahu, Ini Makanan yang Harus Dihindari di Trimester Awal
Kecemasan dan Persiapan Menjadi Orang Tua
Memasuki trimester kedua dan ketiga, perubahan psikologis biasanya lebih mengarah pada rasa cemas dan kekhawatiran. Ibu mulai memikirkan proses persalinan, kondisi kesehatan bayi, hingga peran baru sebagai orang tua.
Perasaan overthinking ini sering muncul, terutama pada ibu yang baru pertama kali hamil.
Namun, kecemasan ini sebenarnya bisa menjadi tanda bahwa ibu sedang mempersiapkan diri secara mental.
Dengan mendapatkan informasi yang cukup, seperti mengikuti kelas kehamilan atau berkonsultasi dengan tenaga kesehatan, ibu dapat mengelola kecemasan tersebut dengan lebih baik.
Selain itu, menjaga kesehatan mental selama kehamilan sangat penting. Ibu disarankan untuk melakukan aktivitas yang menyenangkan, beristirahat cukup, serta berbagi cerita dengan orang yang dipercaya.
Dengan begitu, kondisi psikologis tetap stabil dan kehamilan dapat dijalani dengan lebih nyaman.
Sumber: Modul pembelajaran Kebidanan Umsida
Penulis: Elfira Armilia























